Otoriter Adalah

  • Whatsapp

Otoriter adalah salah satu jenis kepemimpinan yang berkembang di dunia. Gaya kepemimpinan ini kental dengan kediktatoran dan kepemimpinan tirani. Untuk lebih jelasnya, simak mengenai kepemimpinan otoriter, sifat, contoh, dan ciri-cirinya?

Jika dilihat dari sudut pandang politik, pemerintah otoriter merupakan pemerintahannya terkonsentrasi pada kekuasaan pemimpin. Tak heran jika gaya kepemimpinan ini memegang kekuasaan sebagai referensi yang akurat dalam menjalankan pemerintahannya.

Pengertian Otoriter

Daftar Baca Cepat Tampilkan

Pengertian-Otoriter

Asal kata otoriter sendiri berasal dari bahasa Inggris yang pada dasarnya merupakan turunan dari istilah dalam bahasa Latin ‘auctoritas’. Arti istilah ini berarti pengaruh, otoritas, dan kekuasaan.

Melalui otoritas ini, seseorang dapat mempengaruhi gagasan, pendapat, pemikiran, dan perilaku orang lain. Baik secara individu maupun sekelompok orang. Sedangkan gaya otoritarianisme sendiri berarti pemahaman atau posisi yang memiliki kekuasaan dan otoritas.

Otoritas yang dimaksud sudah termasuk tindakan dan cara hidup yang diambil. Otoritariansime merupakan salah satu bentuk organisasi sosial yang ditandai dengan transfer kekuasaan yang terjadi saat itu. Tentunya, hal ini berbeda dengan prinsip demokrasi dan paham individualisme.

Dalam segi politik, pemerintahan otoriter diartikan sebagai pemerintah yang mengambil seorang pemimpin sebagai konsentrasi kekuatan politik utama. Otoritarianisme disebut pula sebagai paham politik otoriter.

Artinya, bentuk pemerintahan ditekankan terhadap kekuasaan yang berada di tangan orang tertentu. Terlepas dari tingkat kebebasan yang diberikan pada individu di saat yang bersamaan. Perlu diketahui pula bahwa otortarianisme berbeda dengan totaliterisme.

Paham tersebut memang berkembang dalam lembaga ekonomi dan sosial, namun tidak di bawah kendali pemerintah. Biasanya sistem ini menentang paham demokrasi sehingga kekuatan negara tercapai tanpa proses pemilihan yang bersifat demokratis.

Sifat Otoriter

Sifat-Otoriter

Sifat otoriter artinya proses mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan akibat yang ditimbulkan. Pada dasarnya, sifat seperti ini tidak baik untuk berorganisasi dalam lingkungan. Sifat otoriter akan membawa seorang anggota organisasi mengambil keputusannya sendiri.

Artinya, keputusan yang diambil tidak melalui proses musyawarah bersama anggota organisasi lainnya. Sikap seperti ini akan berdampak negatif bagi kemajuan organisasi dan anggota di dalamnya. Terlebih jika yang memiliki sifat otoriter seperti ini adalah seorang pemimpin.

Dalam mengambil keputusan, seorang pemimpin harus bersikap demokratis dengan melakukan musyawarah terlebih dahulu. Keputusan yang diambil harus dipertimbangkan dengan matang. Baik sebab maupun akibat yang akan ditimbulkan.

Dengan demikian, kemajuan suatu organisasi tergantung pada cara seorang pemimpin mengambil keputusan.

Sifat Kepemimpinan Otoriter

Sifat-Kepemimpinan-Otoriter

Kepemimpinan otoriter pada dasarnya bisa disebut sebagai diktator. Diktator merupakan kepemimpinan dimana ia mengambil kontrol sebagai penguasa dan seluruh hal dikendalikan olehnya. Seorang diktator jelas tidak menyukai majelis, musyawarah, bahkan konsultasi.

Ia tidak ingin terdapat perbedaan sudut pandang dan pendapat demi menegakkan kehendaknya. Pada dasarnya,kepemimpinan diktatorial ini berkaitan dengan seluruh keputusan yang diambilanya. Baik berupa larangan, peraturan, dan bentuk hukuman.

Bahkan tak jarang semua itu diputuskan tergantung pada suasana hati pemimpin. Sifat kepemimpinan otoriter tapaknya memang kurang relevan apabila diterapkan di era modern seperti saat ini.

Meski demikian, tipe kepemimpinan seperti ini mungkin dapat diterapkan pada anggota atau bawahan dengan tingkat kedewasaan yang kurang.

Karakteristik Kepemimpinan Otoriter

Ada beberapa karakteristik kepemimpinan otoriter yang perlu dipahami. Dengan demikian, hal ini bisa membedakan tipe kepemimpinan yang bervariasi di dunia. Adapun beberapa karakteristik tersebut antara lain, yaitu.

1. Visi Pemimpin Harus Diikuti

Visi-Pemimpin-Harus-Diikuti

Di suatu negara atau organisasi otoriter, visi pemimpi merupakan yang terbaik. Artinya, anggota atau bawahan harus menjadikan visi pemimpin menjadi visi mereka yang harus dijalankan. Setiap bawahan harus mengikuti visi pemimpin karena menurutnya adalah yang terbaik untuk dilakukan.

2. Tidak Toleran Terhadap Penyimpangan

Tidak-Toleran-Terhadap-Penyimpangan

Pemimpin otoriter akan menjabarkan visi, tugas, dan tujuan yang akan dicapai secara detail. Bahkan pemimpin tidak mentoleransi setiap penyimpangan yang dilakukan bawahan atau anggota. Pada dasarnya, tujuan dari pemimpin tersebut yang harus benar-benar dijalankan dengan baik.

3. Pemimpin Menginstruksi Visi secara Jelas

Pemimpin-Menginstruksi-Visi-secara-Jelas

Kepemimpinan otoriter dikenal dengan pemimpinnya yang memberikan instruksi secara jelas. Terutama mengenai hal apa saja yang harus dicapai. Termasuk waktu yang tepat untuk melakukannya dan bagaimana agar tujuan tersebut dicapai.

4. Pemimpin Berorientasi Terhadap Hasil

Pemimpin-Berorientasi-Terhadap-Hasil

Pemimpin akan berorientasi pada hasil dan tugas yang dilakukannya. Pada dasarnya, mereka akan memaksakan kepatuhan bawahan secara mutlak dan wajib dijalankan. Sekilas mungkin organisasi akan begitu terstruktur, namun pelaksanaan kebijakan akan terlihat kaku.

5. Pemimpin Mengontrol Setiap Keputusan

Pemimpin-Mengontrol-Setiap-Keputusan

Pemimpin otoriter adalah pihak yang mengontrol setiap keputusan di suatu negara atau organisasi. Anggota adalah pihak yang hanya perlu melaksanakan setiap keputusan yang diambil pemimpin. Oleh karena itu, mereka harus menjalankannya dengan tepat tanpa keraguan.

6. Pemimpin Membuat Pilihan Sendiri

Pemimpin-Membuat-Pilihan-Sendiri

Pemimpin akan membuat pilihan berdasarkan pemikiran dan penilaian mereka sendiri. Artinya, mereka akan menganggap ide dan keputusan yang dimilikinya merupakan yang terbail. Oleh karena itu, setiap anggota perlu melaksanakannya dengan baik dan benar.

7. Pemimpin Sedikit/Tidak Menerima Saran

Pemimpin-Sedikit-Tidak-Menerima-Saran

Pemimpin hanya sedikit bahkan tak jarang tidak menerima sama sekali saran dari anggotanya. Mereka akan mengabaikan setiap ide dan kreativitas dari bawahan. Tak heran jika tingkat inovasi dan kreativitas dalam organisasi dinilai sangat rendah.

8. Anggota Merasa Tidak Terlibat

Anggota-Merasa-Tidak-Terlibat

Setiap anggota atau bawahan di organisasi otoriter akan melaksanakan tugas karena dibawah ancaman dan ketakutan. Tak heran jika mereka merasa tidak terlibat dan kurang termotivasi akan inovasi dan kreativitas,

9. Pemimpin Mengawasi dengan Ketat

Pemimpin-Mengawasi-dengan-Ketat

Pemimpin otoriter akan mengawasi setiap anggota kelompok dengan ketat. Bahkan tak segan memberikan hukuman keras terhadap sikap ketidakpatuhan. Mereka akan mengancam dengan sanksi berupa pemecatan.

Selain itu, pengawasan akan lebih ketat dilakukan terhadap anggota dan bawahan yang membangkang terhadap pemimpin.

Kecenderungan Kepemimpinan Otoriter

Untuk mengenali sebuah kepemimpinan otoriter, ada baiknya untuk memahami beberapa ciri utamanya berikut ini.

1. Menganut Paham Monoisme

Menganut-Paham-Monoisme

Monoisme diartikan sebagai paham dimana pemimpin menolak dengan tegas keanekaragaman pendapat. Artinya, ia selalu memaksakan kehendak pribadi dan tidak menghargai pendapat orang lain.

2. Kekerasan Dianggap Lumrah

Kekerasan-Dianggap-Lumrah

Kekerasan yang dimaksud bisa berupa kekerasan psikis maupun fisik. Sebagai contoh, bisa dilihat dalam organisasi kampus cenderung menyerang psikis anggota dibanding tindakan kekerasan fisik.

3. Bertahan di Puncak

Bertahan-di-Puncak

Pemerintah otoriter cenderung mempertahankan jabatan yang diembannya. Hal ini dilakukan demi mengeruk seluruh fasilitas yang diberikan kepannya. Selain itu, ia juga memanfaatkannya demi kepentingan pribadi dibanding kepentingan bersama.

Ciri-Ciri Negara Otoriter

Beberapa negara di belahan dunia ini memang sempat memiliki kepemimpinan otoriter. Berikut ini merupakan ciri-ciri dan contoh negara otoriter di dunia.

1. Masa Jabatan Pemimpin Berlangsung Lama

Masa-Jabatan-Pemimpin-Berlangsung-Lama

Hal pertama yang bisa dilihat dari negara otoriter adalah masa jabatan pemimpin yang berlangsung lama. Tak heran jika pemimpin di negara otoriter disebut sebagai diktator.  Masa jabatan yang lama tersebut tidak bisa dipisahkan dari tujuan yang ingin dicapai pemimpin itu sendiri.

Tujuan utama masa jabatan yang berlangsung lama utamanya adalah untuk perluasan politik dan pemanfaatan ekonomi.

2. HAM (Hak Asasi Manusia) Tidak Diutamakan

HAM-Hak-Asasi-Manusia-Tidak-Diutamakan

Apabila seorang pemimpin di suatu negara memimpin terlalu lama, maka sudah dipastikan hak-hak rakyatnya mulai terkikis. Bahkan hak dasar rakyat pun akan semakin sulit didapat karena batasan-batasan yang dibuat.

Hingga akhirnya hal ini menimbulkan aksi proters/demo besar-besaran dari rakyat. Namun, sayangnya malah berkembang menjadi kasus pelanggaran HAM secara vertikal. Setelah itu, pecah konflik horizontal antara pihak pro pemerintah dengan oposisi.

3. Pembangunan Infrastruktur Tidak Merata

Pembangunan-Infrastruktur-Tidak-Merata

Pemerintah otoriter menjalankan kekuasaannya hanya terfokus pada pusat. Hal ini menyebabkan berbagai wilayah terpencil tidak terjamah. Bahkan mengalami kemunduran pembangunan infrastruktur yang kurang memada.

Tak heran jika hal ini pula yang menyebabkan timbulnya konflik di wilayah lokal, misalnya konflik Ambon-Poso.

4. Organisasi Baru Selalu Dicurigai Pemerintah

Organisasi-Baru-Selalu-Dicurigai-Pemerintah

Di negara otoriter, munculnya organisasi baru selalu dicurigai pemerintah. Pemimpin diktator di negara tersebut pasti akan selalu ketakutan dengan munculnya organisasi. Organisasi yang dibentuk masyarakat akan dicurigai sebagai pemberontak atau revolusioner.

Tak heran jika di negara otoriter diterbitkan aturan-aturan yang mencegah terbentuknya organisasi. Hal ini dikhawatirkan akan melahirkan gerakan oposisi terhadap pemerintahan. Meski tidak semua organisasi yang dibentuk selalu berkaitan dengan politik.

5. Kekuasaan Tertinggi di Tangan Pemimpin

Kekuasan-Tertinggi-di-Tangan-Pemimpin

Seperti yang telah disebutkan di atas, tentunya pemerintahan otoriter memiliki ciri utama kekuasaan tertinggi di tangan pemimpin. Pemerintahan yang berkuasa bersifat diktator serta mengontrol segala hal yang ditentukan di negara tersebut.

Efektivitas Kepemimpinan Otoriter

Meski kerap kali dianggap negatif, namun jenis kepemimpinan otoriter dianggap efektif untuk beberapa hal dan situasi. Pada dasarnya, kapan dan dimana kepemimpinan otoriter itu efektif tergantung dari faktor-faktor yang bersangkutan.

Misalnya tergantung situasi, jenis tugas yang dilaksanakan, karakteristik bawahan, dan lain sebagainya.

1. Saat Organisasi yang Mengalami Perubahan Signifikan

Saat-Organisasi-yang-Mengalami-Perubahan-Signifikan

Dipercaya atau tidak, nyatanya pemimpin otoriter bekerja paling baik di suatu organisasi yang sedang mengalami perubahan signifikan. Ketegasan pemimpin sangat diperlukan ketika sebuah organisasi menghadap ketidakpastian.

Dengan demikian, setiap anggota akan kompak bertindak untuk mencapai target yang dituju. Pada dasarnya, situasi ini akan mengurangi motif kepentingan pribadi dari masing-masing anggota.

2. Saat Organisasi Membutuhkan Keputusan Cepat dan Akurat

Saat-Organisasi-Membutuhkan-Keputusan-Cepat-dan-Akurat

Jika diperhatikan kepemimpinan otoriter kerap kali diandalkan di sebuah perusahaan konstruksi dan manufaktur. Hal ini untuk mengatasi rentang waktu dan untuk memastikan kualitas output yang didapatkan.

Pada dasarnya, kepemimpinan akan berfokus pada proses pengambilan keputusan yang dilakukan. Sedangkan anggota dan bawahan lebih berkonsentrasi terhadap tugas yang diemban.

3. Saat Organisasi Tidak Mentolerir Kesalahan

Saat-Organisasi-Tidak-Mentolerir-Kesalahan

Siapa sangka, kepemimpinan otoriter nyatanya bekerja dengan baik di saat organisasi tidak mentoleransi kesalahan. Tak heran jika beberapa kegiatan konstruksi dan manufaktur cukup sesuai dengan tipe kepemimpinan seperti ini.

Terutama dengan hal yang berkaitan dengan kontrol kualitas yang dijalankan. Selain itu, di rumah sakit juga tidak bisa mentolerir kesalahan karena dapat mengakibatkan kematian pada pasien.

4. Efektif di Lingkungan yang Darurat

Efektif-di-Lingkungan-yang-Darurat

Nyatanya kepemimpinan otoriter juga dapat bekerja secara efektif di lingkungan darurat atau dengan tekanan cukup tinggi. Misalnya di lingkungan yang sedang terjadi konflik dan perang.

Kelebihan Kepemimpinan Otoriter

Sekilas tipe kepemimpinan seperti ini memang lebih banyak berdampak negatif. Padahal, hal ini tidak selalu demikian karena terdapat kelebihan di dalamnya. Lalu, apa saja kelebihan dari tipe kepemimpinan otoriter? Berikut diantaranya.

1. Pengambilan Keputusan secara Cepat

Pengambilan-Keputusan-secara-Cepat

Ketika berada di situasi yang penuh tekanan dan berbatas waktu, proses pengambilan keputusan yang cepat sangat diperlukan. Tidak hanya itu, pengawasan dan rantai komando juga perlu dilakukan dengan jelas.

Apabila pemimpinnya bisa mengambil keputusan dengan cepat, setiap anggota bisa berkonsentrasi terhadap tugasnya. Mereka tidak perlu berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang tentunya lebih rumit.

2. Dibutuhkan Jika Bawahan Kurang Terampil

Dibutuhkan-Jika-Bawahan-Kurang-Terampil

Tipe kepemimpinan otoriter bisa memberikan manfaat apabila anggota atau bawahan kurang terampil. Bisa jadi pengetahuan yang dimilikinya juga dirasa kurang. Oleh karena itu, pemimpin dapat melatih dan mengatur setiap anggotanya.

3. Membuat Rantai Komando Organisasi Lebih Terstruktur

Membuat-Rantai-Komando-Organisasi-Lebih-Terstruktur

Nyatanya lingkungan otoriter bisa membuat rantai komando di suatu organisasi lebih terstruktur. Artinya, setiap anggota akan memiliki target, tugas, dan tenggat waktu yang jelas. Selain itu, instruksi dan komunikasi pun dilakukan secara satu arah. Artinya, dari pemimpin ke masing-masing anggota.

4. Hasil Lebih Konsisten dan Terukur

Hasil-Lebih-Konsisten-dan-Terukur

Dalam kepemimpinan otoriter, setiap anggota harus melaksanakan tugasnya sesuai instruksi dan target. Selain itu, jangka waktu yang ditentukan pun harus dipatuhi dengan baik. Tak heran jika hasil yang didapatkan dikenal lebih konsisten dan terukur.

Kekurangan Kepemimpinan Otoriter

Meskipun memiliki kelebihan, tentunya jenis kepemimpinan ini juga memiliki sejumlah kekurangan. Apa sajakah itu? Berikut diantaranya.

1. Memunculkan Resistensi Antar Anggota

Memunculkan-Resistensi-Antar-Anggota

Lingkungan otoriter dapat memunculkan resstensi antar anggota di suatu organisasi. Artinya, akan timbul rasa kebencian atau balas dendam. Terlebih jika lingkungan otoriter tersebut sedang tidak stabil.

2. Tidak Memiliki Keterampilan Pemecahan Masalah

Tidak-Memiliki-Keterampilan-Pemecahan-Masalah

Seperti yang telah disebutkan di atas, proses pengambilan keputusan memang bergantung pada sifat pemimpin. Keputusan yang diambil berdasarkan ide dan pemikiran yang menurutnya benar. Tak heran jika nantinya sebuah organisasi tidak memiliki keterampilan pemecahan masalah yang kreatif.

Tidak hanya itu, pihak bawahan juga tidak bisa menyumbangkan pendapat dan pemikiran mereka kepada organisasi.

3. Tekanan yang Tinggi Diantara Para Bawahan

Tekanan-yang-Tinggi-Diantara-Para-Bawahan

Perlu diketahui bahwa seseorang akan merasa lebih bahagia ketika memberikan kontribusi pada sebuah kelompok atau organisasi. Tentunya, hal ini tidak bisa ditemui di lingkungan otoriter. Mengingat penekanan terhadap kepatuhan bersifat mutlak.

Hal ini karena sifat kreatif dan inisiatif sangat terbatas dan tidak bisa dilakukan. Artinya, para bawahan akan mengalami rasa frustasi yang lebih besar. Bahkan tak jarang akan merasa kehilangan semangat dan produktivitas.

4. Kesuksesan Terlalu Bergantung Pada Pemimpin

Kesuksesan-Terlalu-Bergantung-Pada-Pemimpin

Di lingkungan otoriter, kesuksesan organisasi sangat tergantung pada kemampuan pemimpin. Bahkan pemimpin otoriter ini banyak mengabaikan ide dan pemikiran dari bawahannya. Mungkin hal ini tidak akan jadi masalah apabila pemimpinnya memiliki keterampilan yang mumpuni.

Namun, berbeda halnya jika tidak memiliki kemampuan yang cukup. Setiap keputusan yang diambil hanya akan menghasilkan kegagalan. Bahkan tak jarang akan memberikan penderitaan pada bawahannya.

5. Tingkat Turnover Tinggi

Tingkat-Turnover-Tinggi

Artinya, bawahan tidak akan merasa betah dan selalu ingin keluar jika mendapat kesempatan. Mereka meyakini bahwa ada lingkungan baru yang lebih memberdayakan dan menghargai kerja keras mereka.

Contoh Pemimpin Otoriter

Setelah memahami mengenai sifat dan kepemimpinan otoriter, berikut ini merupakan beberapa contoh pemimpin otoriter. Pemimpin bergaya otoriter ini dikenal pula sebagai diktator. Lalu, siapa sajakah mereka? Berikut diantaranya.

1. Mustafa Kemal Ataturk

Mustafa-Kemal-Ataturk

Kesultanan Usbani di Turki berakhir di tahun 1922. Setahun berikutnya, hadirlah Ataturk yang akhirnya menjabat sebagai presiden Republik Turki. Ataturk mendirikan sebuah Partai Rakyat yang sebenarnya merupakan rezim partai tunggal yang berkembang saat ini.

Rezim Ataturk mencanangkan cita-cita negara Turki yang modern dan sekuler.  Ia memperkenalkan program reformasi secara luas dengan wibawa dan kharisma sebagai pemimpin. Reformasi tersebut diawali dengan titah penghapusan kekhalifahan sebagai jenis kepemimpinan.

Seperti yang telah diketahui, kekhalifahan saat itu didasari dengan otoritas religius sultan dan institusi Islam yang ada. Rezim yang dijalankan Ataturk disebut dengan Kemalisme atau Ataturkisme. Adapun ideologi tersebut menganut enam prinsip utama.

6 prinsip tersebut ialah: Republikanisme, nasionalisme, stateisme, populisme, sekularisme, dan revolusionisme. Presiden Mustafa Kemal Ataturk menyingkirkan lawan politik utamanya di tahun 1926. Saingannya dijatuhkan dengan dakwaan konspirasi pembunuhan.

Pada dasarnya, hal yang dilakukannya tersebut berdasarkan tujuan dan keyakinannya untuk mengubah Turki menjadi negara modern dan sekuler. Salah satunya dengan memanfaatkan kecanggihan politik.

2. Fidel Castro

Fidel-Castro

Di tahun 1959, Fidel Castro mendeklarasikan dirinya sebagai Perdana Menteri Kuba. Saat itu, hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Amerika Serikat tengah kacau. Kemudian ia menegoisasikan senjata, bantuan makanan, dan perjanjian kredit dengan Uni Soviet.

Sepanjang masa pemerintahannya, ia banyak mengeksekusi secara kejam terhadap tahanan dan lawan-lawan politiknya.  Perjuangannya melawan Amerika Serikat terhadap wilayah Karibia membuatnya menasionalisasikan berbagai SDA dari negara Kuba.

Selain itu, Castro juga membentuk pertanian kolektif dan meresmikan negara sosialis dengan partai tunggal. Bahkan sejumlah orang kaya pada saat itu di Kuba dijebloskan ke penjara. Pada dasarnya, Fidel Castro merupakan pemimpin Kuba yang menganut ideologi Marxisme garis keras.

Terlebih ketika banyaknya negara komunis yang runtuh satu per satu. Meski demikian, Castro dikenal sebagai pemimpin yang banyak didukung dan dicintai rakyat Kuba.

3. Soeharto

Soeharto

Seperti yang telah diketahui Soeharto merupakan presiden Republik Indonesia dengan masa jabatan paling lama. Bahkan presiden ke-2 tersebut telah berkuasa selama 32 tahun. Ia membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dinilai tidak sejalan dengan ideologi Pancasila.

Pada masa pemerintahannya, segala hal berbau komunis wajib dimusnahkan saat itu juga. Masa jabatan Soeharto baru berakhir ketika para mahasiswa turun ke jalanan menuntutnya untuk turun jabatan.

Aksi protes masyarakat ini meledak karena semakin parahnya krisis ekonomi di tanah air pada saat itu. Hingga akhirnya Soeharto mundur di tahun 1998. Setelah itu, jabatan presiden digantikan oleh wakilnya yaitu B.J Habibie.

Saat itu banyak beredar isu bahwa pada masa jabatan Soeharto, para aktivis atau masyarakat umum yang menolak kebijakannya akan diculik dan dipenjara. Hal ini karena indikasi yang tercium oleh pemerintah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan golongan komunis.

4. Saddam Hussein

Saddam-Hussein

Saddam Hussein menjadi tokoh otoriter berikutnya dan terkenal sebagai pemimpin Arab yang paling teguh menentang Amerika dan Barat. Ia banyak dipuja di jalanan dan kota-kota di Arab meskipun meninggal dengan cara yang tragis di tangan Barat.

Peristiwa 11 September 2001 menjadi momen dimana Amerika Serikat berperang melawan terorisme saat itu. AS berhasil menjatuhkan pemerintahan Taliban yang beroperasi di Afghanistan. Selain itu, negara adidaya tersebut juga bersikeras menyerang Irak dengan berbagai tuduhan.

Salah satunya kepemilikan senjata pemusnah massal yang masih berkaitan dengan kelompok terorisme Al Qaeda.

Presiden Saddam Hussein mendapatkan pujian sebagai pemimpin yang dengan tegas menentang Barat dan Israel. Tidak hanya itu, bisa dibilang bahwa dirinya merupakan simbol ketangguhan bangsa Arab melawan Barat saat itu.

Namun, Irak berhasil takluk di tahun 2003 setelah serangan besar yang dilakukan pasukan AS dan dibantu Inggris. Hingga akhirnya sang diktator dikabarkan tertangkap di ruang bawah tanah pertanian, Tikrit.

6. Husni Mubarak

Husni-Mubarak

Pada 6 Oktober 1981 terjadi pembunuhan terhadap Presiden Anwar Sadat oleh kelompok radikal. Momen tersebut menjadi awal kepemimpinan Husni Mubarak sebagai presiden Mesir yang keempat. Ia lahir di kota Kafr-El Meselha pada tanggal 4 Mei 1928.

Masa pemerintahannya di Mesir kurang lebih selama 30 tahun dan merupakan yang terlama. Pola pemerintahan yang dijalankan dikenal bersifat diktator, korup, dan kejam. Sepanjang masa kepemimpinannya dinilai penuh penyiksaan dan skandal.

Tekanan dan penyiksaan yang dilakukan pemerintah Mesir saat itu difokuskan kepada para aktivitas politik. Menurut Kemenlu AS, penyiksaan tersebut menyasar gerakan Ikhwanul Muslimin (IM). Ketika masa jabatan tahun ke-8, Husni Mubarak dipaksa mundur oleh rakyat Mesir.

Mengingat rakyat tampaknya sudah mulai gusar dengan gaya kepemimpinan yang dijalankan. Sebagai presiden, ia dinilai tidak peka terhadap permasalahan krisis ekonomi yang melanda Mesir pada saat itu.

Tak heran jika akhirnya terjadi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di seluruh pelosok Mesir. Rakyat menuntut agar Presiden Husni Mubarak lengser dari jabatannya yang sudah berkuasa selama 30 tahun.

Demonstrasi besar-besaran tersebut berlangsung selama 18 hari berturut-turut. Hingga akhirnya pada tanggal 11 Februari 2011, Presiden Husni Mubarak resmi mundur. Momen ini menjadi awal Revolusi Mesir dan situasi politik yang berubah di tahun 2011.

7. Ferdinand Marcos

Ferdinand-Marcos

Presiden Filipina ke-10 ini lahir pada 11 September 1917 di Sarrat, Llocos Norte, Filipina. Ia didesak turun jabatan ketika terjadi peristiwa “People Power Revolution”. Desakan itu terjadi karena rakyat sudah tidak tahan dengan sikap kepemimpinannya yang otoriter dan diktator.

Tidak hanya itu, ia juga diindikasikan melakukan berbagai kecurangan. Ferdinand Marcos dianggap sebagai pemimpin yang banyak melakukan pelanggaran HAM dan korup. Bahkan pemerhati HAM menyatakan bahwa ia bertanggung jawab terhadap nyawa banyak orang.

Disebutkan bahwa sang presiden bertanggung jawab atas 759 orang hilang, 3.257 pembunuhan, 70.000 penahanan, dan 35.000 penyiksaan. Terlalu berkuasa, bahkan ia menempatkan istrinya sebagai Menteri Pemukiman di tahun 1972-1986.

Setelah peristiwa “People Power Revolution”, presiden bersama istrinya kabur ke Hawaii. Kemudian meninggal dunia di tempat pelariannya tersebut di tanggal 28 September 1987 akibat penyakit paru-paru, ginjal, dan jantung.

8. Muammar Al-Qaddafi

Muammar-Al-Qaddafi

Siapa pemimpin Libya diktator yang paling terkenal selain Muammar Gaddafi? Ia telah menguasai Libya selama 41 tahun, yaitu sejak 1969-2011. Ghaddafi dikenal sebagai pemimpin yang diktator dan kejam.

Semenjak memegang kekuasaan tertinggi, kehidupan rakyat Libya banyak dibatasi. Bahkan Gaddafi dan keluarganya mengambil alih sebagian besar perekonomian negara Arab tersebut. Ia menggunakan pendapatan negara dari sektor minyak untuk berbagai proyek internasional.

Gaddafi mengalokasikan pendapatan negara saat itu untuk mempelopori kegiatan politik dan aksi teror. Seiring berjalannya waktu, rakyat Libya mulai memberontak atas kekuasaan rezim Gaddafi. Terjadi demo besar-besaran untuk menuntut dirinya lengser dari jabatan tertinggi pemerintahan.

Ulasan mengenai pengertian otoriter, sifat, ciri-ciri, dan contohnya di atas semoga bisa membuka wawasan kita mengenai tipe kepemimpinan ini. Pada kenyataannya, sikap otoriter lebih banyak memiliki dampak negatif meskipun bisa berguna di situasi tertentu saja.

 

Lihat Juga :

Related posts