Haul Adalah

  • Whatsapp

Pada tahun 2020 lalu, Haul Gus Dur dilaksanakan di 3 kota yaitu Jakarta, Yogyakarta dan Jombang. Ribuan orang datang menyesaki area tersebut karena bagi mereka haul adalah momen penting bagi orang yang telah meninggal maupun orang yang masih hidup.

Bukan hanya Haul Gus Dur, masyarakat Islam di Indonesia juga kerap mengadakan acara tersebut untuk tokoh lain yang telah wafat. Haul sudah menjadi tradisi setiap tahun yang memiliki makna mendalam. Bagi Anda yang masih meraba, berikut penjelasan lengkap mengenai haul.

Pengertian Haul

Pengertian-Haul

Dilihat dari etimologinya, ‘haul’ berasal dari bahasa Arab yang bermakna ‘setahun’. Kata tersebut kerap digunakan sebagai istilah yang merujuk pada jangka waktu setahun untuk pembayaran zakat umat Islam.

Namun, haul memiliki pengertian yang lebih luas yang berhubungan dengan wafatnya seseorang. Berdasarkan KBBI, definisi haul adalah peringatan yang dilakukan sekali dalam setahun untuk memperingati hari kematian seseorang.

Haul merupakan tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun di kalangan masyarakat Muslim Indonesia. Tujuan utamanya adalah mendoakan anggota keluarga, para tokoh dan alim ulama yang sudah wafat agar amal ibadahnya diterima oleh Allah.

Dapat dikatakan bahwa haul merupakan bentuk peringatan hari wafatnya seseorang yang melibatkan kegiatan berupa pengamalan ibadah seperti memanjatkan doa, membaca Al Quran dan membaca sholawat.

Dengan begitu, pelaksanaan haul tidak hanya ditujukan untuk orang yang meninggal saja tetapi juga mendatangkan manfaat dan keberkahan bagi orang yang melaksanakannya.

Biasanya, haul diselenggarakan dalam lingkup yang kecil seperti keluarga maupun lingkup yang lebih besar hingga mengundang banyak tamu penting. Hal tersebut tergantung dari siapa sosok yang dihauli, apakah anggota keluarga atau tokoh pemuka agama.

Sejarah Haul

Sejarah-Haul

Sebenarnya, belum ada referensi yang benar-benar menegaskan dari mana haul berasal hingga tersebar dan menjadi tradisi di Indonesia. Namun, beberapa rujukan menjelaskan bahwa sejarah haul adalah berasal dari perkembangan perayaan Maulid Nabi Muhammad.

Upacara haul berkembang di Indonesia disebabkan oleh ajaran tasawuf yang dibawa oleh para orang sufi. Sebab, penganut ajaran tasawuf meyakini bahwa para ulama besar dan wali merupakan orang terpilih yang mendapatkan karomah.

Karomah merujuk pada kelebihan luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang saleh. Oleh sebab itu, orang sufi sangat menghormati mereka selama hidup maupun setelah wafat. Keutamaan yang dimiliki orang-orang saleh tetap patut diikuti sekalipun sudah meninggalkan dunia.

Selain itu, diyakini juga bahwa haul pertama kali diadakan oleh masyarakat Islam yang tinggal di Hadramaut, Yaman. Sekitar sebelum abad ke-19, masyarakat di sana terbagi menjadi beberapa kelas sosial yaitu sayyid, masyayikh dan masaakin.

Sayyid adalah kelas yang paling atas dan berasal dari keturunan Nabi Muhammad. Sedangkan masyayikh merupakan kelompok yang berilmu namun bukan termasuk keturunan Rasulullah. Terakhir adalah masaakin yang merupakan orang-orang miskin harta dan ilmu.

Setiap tahun, golongan sayyid maupun masyayikh mengadakan ceramah di dekat makam tokoh spiritual yang dihormati demi mengenang jasa dan kebaikannya. Kegiatan lain dalam acara haul adalah melantunkan puisi dan puji-pujian kepada tokoh yang telah meninggal tersebut.

Kemudian sekitar abad ke-19, golongan sayyid diyakini pergi ke daratan Asia Tenggara termasuk Indonesia untuk menyebarkan agama Islam. Secara otomatis, upacara haul pun diperkenalkan dan hingga sekarang menjadi bagian dari tradisi umat Islam di Indonesia khususnya kalangan Nahdliyin.

Hakikat Makna Haul

Bukan sekadar menjalankan tradisi dan berkumpul dengan banyak orang, upacara haul ternyata mengandung hakikat makna yang cukup mendalam. Adapun hakikat makna haul adalah sebagai berikut:

1. Mendoakan Orang yang Sudah Wafat

Mendoakan-Orang-yang-Sudah-Wafat

Dalam agama Islam memang dianjurkan untuk mendoakan orang yang masih hidup maupun orang yang sudah mati demi kebaikan mereka serta orang yang mengirim doa.

Melalui haul, doa-doa baik akan dikirimkan kepada orang yang sedang dihauli dengan harapan Allah akan menerima amal ibadah, melapangkan kuburnya dan menempatkannya di surga.

Saat seseorang mendoakan orang lain, malaikat juga akan turut mendoakan hal yang serupa untuk pihak yang mendoakan. Oleh sebab itu, haul juga memberikan manfaat bagi orang yang masih hidup yang mau turut memanjatkan doa.

2. Meneladani Amalan Baik yang Pernah Dilakukan

Meneladani-Amalan-Baik-yang-Pernah-Dilakukan

Pada umumnya, haul dilaksanakan untuk memperingati wafatnya tokoh-tokoh pemuka agama. Setiap dari mereka memiliki ketaatan yang patut untuk diteladani dalam menjalankan perintah Allah.

Semasa hidup, para tokoh tersebut juga kerap melakukan amalan yang mendatangkan manfaat bagi orang lain. Maka dari itu melalui upacara haul, para peserta kembali diingatkan dengan kesalehan tokoh yang sudah meninggal untuk diteladani.

3. Mengenang Jasa Seseorang selama Hidup

Mengenang-Jasa-Seseorang-selama-Hidup

Selain itu, tujuan dari pelaksanaan haul adalah memutar kembali memori mengenai jasa-jasa yang dilakukan oleh almarhum/almarhumah tersebut.

Dalam pelaksanaan haul akbar yang memperingati wafatnya ulama besar atau tokoh penting, biasanya dibacakan jasa yang mereka pernah lakukan. Hal tersebut memiliki maksud agar semakin menghormati dan menghargai sosok tokoh tersebut sekalipun telah tiada.

4. Mengingat Kematian

Mengingat-Kematian

Hakikat makna haul selanjutnya adalah sebagai pengingat kematian. Selama menghadiri upacara haul, Anda akan diingatkan dengan tokoh yang sudah wafat tersebut sekaligus mendapat ceramah yang mengandung nasihat kematian.

Dengan begitu, akan muncul kesadaran yang lebih untuk lebih giat beribadah sebagai persiapan menuju akhirat kelak. Sebab, tidak ada manusia yang akan lepas dari kematian bahkan tokoh yang saleh sekalipun.

5. Menjaga Silaturahmi dengan Sesama Umat Islam

Menjaga-Silaturahmi-dengan-Sesama-Umat-Islam

Haul sudah menjadi kebiasaan yang mengakar di beberapa kalangan tertentu. Perayaan yang diadakan setahun sekali tersebut selalu dibanjiri oleh ribuan orang dari berbagai daerah. Tidak mengherankan apabila haul juga dianggap sebagai momen untuk menjaga silaturahmi.

Hukum dan Tata Cara Pelaksanaan Haul

Walaupun sudah berkembang lama di Indonesia, namun beberapa kalangan ada yang menganggap pelaksanaan haul adalah tidak diperbolehkan karena tidak secara langsung dicontohkan oleh Rasulullah.

Apakah benar demikian? Ternyata, para ulama justru sepakat dengan pelaksanaan haul dan tidak mengeluarkan adanya larangan.

Berdasarkan Fatwa Al Kubra Juz 11 halaman 18 dari Ibnu Hajar, dijelaskan bahwa para sahabat dan ulama memperbolehkan haul dengan catatan tidak boleh meratapi orang yang sudah meninggal tersebut sembari menangis tersedu-sedu.

Haul yang dianjurkan adalah kegiatan yang tidak melibatkan ratapan tangis melainkan panjatan doa dan pengingat akan amal kebaikan yang dimiliki orang yang sudah wafat tersebut. Dengan begitu, para peserta haul akan termotivasi untuk meniru kebaikan yang sama.

Berikut rangkaian kegiatan yang umum dilakukan ketika haul mengenang wafatnya seseorang:

1. Tahlil

Tahlil

Pertama adalah tahlil yang biasa dikenal dengan tahlilan. Disebut sebagai tahlilan karena bacaan kalimat tauhid yang berbunyi “la ilaha illallah’ secara konstan diucapkan selama acara.

Dalam KBBI, tahlil memiliki arti ritual keagamaan yang bertujuan untuk mendoakan orang yang telah meninggal. Rangkaian doa dalam tahlil meliputi pembacaan tawasul, ayat-ayat Al Quran, zikir dan doa-doa.

Melakukan tahlil untuk almarhum/almarhumah bukan perbuatan yang sia-sia. Mayit atau orang yang sudah meninggal tetap mendapatkan manfaat dari bacaan doa, dzikir dan Al Quran yang ditujukan kepadanya.

Hal tersebut merupakan sedekah untuk mayit yang dilakukan secara ikhlas oleh orang-orang yang masih hidup. Pembacaan yasin, tahmid, tahlil, tasbih, zikir lain dan doa-doa tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam dalam haul.

2. Pengajian

Pengajian

Selanjutnya, rangkaian kegiatan haul adalah pengajian sebagai bentuk dari dakwah secara lisan. Tujuan dari pengajian tersebut yaitu memberikan wawasan agama, memperdalam pemahaman agama dan memberikan motivasi untuk meningkatkan kualitas ketakwaan.

Selama pengajian, pendakwah atau dai juga akan memberikan wejangan tentang kematian dan amalan utama apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi takdir tersebut.

Dengan begitu, para peserta haul akan mendapatkan manfaat untuk terus semangat beribadah, meningkatkan kualitas diri dan meninggalkan perbuatan yang sia-sia demi kehidupan akhirat kelak yang abadi.

3.  Manaqib

Manaqib

Dalam acara haul, pembacaan manaqib atau riwayat hidup biasanya dilakukan. Tujuannya jelas bukan untuk pamer melainkan untuk mengingatkan jasa, kebaikan dan segala amal terpuji yang pernah dilakukan almarhum/almarhumah.

Bagi para tokoh besar, jasa-jasa penting yang dilakukan selalu dibacakan sebagai pengingat sekaligus menjadi teladan bagi orang yang masih hidup.

Pembacaan manaqib juga salah satu bentuk penghargaan dan penghormatan untuk orang yang sudah meninggal tersebut. Dengan begitu, mereka akan selalu dikenang sekalipun sudah pergi mendahului.

Haul adalah salah satu ritual keagamaan yang bertujuan untuk mengenang orang yang sudah meninggal namun bukan untuk meratapi. Hukum pelaksanaan haul bukan termasuk haram sebab para ulama memperbolehkan asal tidak ada unsur yang menentang ajaran agama Islam.

Dengan diadakannya haul, masyarakat yang hadir akan diingatkan tentang amal perbuatan, jasa dan kebaikan-kebaikan dari almarhum/almarhumah. Pembacaan doa, zikir dan ayat Al Quran pun dilakukan untuk orang yang telah wafat tersebut.

 

Baca Juga :

Related posts